Rasa
di Balik Bayangan
Mentari
pagi menyapa hangat, daun-daun basah karena embun, dan tanah tergenang air
hujan semalam, Sisi tak beranjak dari tempat tidurnya, diam. Dia hanya memandang
ke luar jendela. Hanya beberapa tetes air matanya yang cepat-cepat ia sekap.
“Si
loe nggak mandi apa, jam berapa ni keburu siang ntar telat lohh, dihukum ama guru
BP ntar!” Lian jengkel sekali pada adik semata wayang yang menurutnya amat
sangat malas bangun pagi.
Sisi
tak beranjak dari tempatnya, dia menghela nafas cukup panjang. Suara cempreng Kak
Lian sudah biasa ia nikamti, bahkan saking hafalnya dia menghitung sampai angka
10. Kakaknya punya tabiat mengancam untuk mendobrak pintu pada hitungan ke-11.
Kali ini Sisi menyerah pada hitungan ke-9 dengan tergopoh-gopoh dia keluar
kamar dan segera mandi “tak cantik”. Acara bermalas-malas kali ini ia gagalkan
karena ada ulangan harian Bu Yayuk, guru kimia ter-killer-nya.
Segera
setelah berpakaian dia berpamitan kepada kedua orang tuanya, Sisi kali ini
takut dengan ancaman guru kimianya yang tidak akan memberikan ulangan susulan
pada siapapun yang tidak mengikuti ulangan ataupun datang terlambat. Meskipun
di dalam hatinya penuh dengan konfrontasi antara logika dan perasaan. Perasaan
fitrah untuk umat manusia tengah ia rasakan, tapi Sisi yakin ia tak akan pernah
bisa mencicipi madunya pacaran. Orang tuanya melarang keras untuk berpacaran sebelum lulus sekolah. Sisi
sadar ia adalah harapan orang tuanya, tapi Sisi juga ingin seperti teman
sebayanya yang merasakan suka dukanya cinta monyet.
***
Setibanya
di sekolah, Sisi kembali di sambut rintik hujan. Sisi heran mengapa hari ini
tak secerah kemarin saat ia belum mengenal apa itu cinta. Di balik jendela
kelas, Sisi merunduk hanya matanya yang kecil yang tampak dari balik kerai kaca
jendela. Sisi mengamati setiap lagkah yang menapaki tangga di depan kelasnya.
Hatinya selalu berdebar manakala sesosok manusia yang ia anggap sangat seksi,
tersenyum kepadanya ketika menapaki tangga.
Yah,
Sisi tengah jatuh cinta pada dia, kakak kelas yang ia kenal ketika MOS SMA
beberapa waktu lalu. Laki-laki tampan nan seksi di mata Sisi, ia terpesona
sampai kedua bola matanya tak henti berkeliling mencarinya jika tak melihatnya
di pagi hari. Sisi khawatir karena hampir jam masuk sekolah kakak pujaan hatinya
tak kunjung melewati tangga keramat di depan kelasnya.
Sisi
kali ini menyerah, ia kecewa pada perasaannya yang tidak mau ia kendalikan.
Tapi bukan itu masalahnya, Sisi saat ini harus berjuang demi cita-citanya masuk
ke jurusan IPA, dengan begitu ia mampu membuktikan bahwa ia pantas masuk di
jurusan paling terpopuler di sekolahnya. Ia tengah bersepakat dengan dirinya sendiri
bahwa cita-cita dan masa depannya adalah yang utama.
***
“Si, loe kayak lagi
sakit yah?? Apa mata gue aja yang lagi sakit?? Diem mulu Si loe hari ini!” Ipah
teman sebangkunya membuka obrolan di jam istirahat siang.
“Ape sih lo pah, gue sih
baik-baik ajah, tapi otak ma hati gue tuh yang lagi nggak sehat.” Sebisanya
Sisi menimpali Ipah. Sisi tak mau menyakiti Ipah dengan mendiamkannya seharian
ini. Lagian bukan salah Ipah jika Sisi sekarang seperti ini hanya masalah
konfrontasi dalam dirinya yang membuatnya untuk malas hidup hari ini.
“Busyet bujupune, nih
orang masih waras kagak. Kata orang di kampung gue kalo cinta ditolak, dukun
nggak boleh bertindak Si. Yang boleh bicara cuman obat serangga ama tali rapia.
Apa loe mau juga yang begituan Si??” perkataan Ipah menonjok dinding hati Sisi.
Tak kuat menahan diam
Sisi pun memukul lembut pundak Ipah. Sisi tau kalo Ipah bermaksud baik, hanya ingin
membuat suasana kembali seperti sediakala sebelum Sisi jatuh cinta. Dia hanya geleng-geleng
kepala sambil mencerna setiap perkataan Ipah.
“Loe pikir gue mau
bunuh diri. Kagaklah Pah, ni kata mama ama ayah Sisi ye, orang bunuh diri ntu
arwahnya kagak bakalan diterima Tuhan. Sisi mah ogah ngawang terus sampai
kiamat. Hahahaha” Ipah dan Sisi pun kembali tertawa bersama. “Loe tau nggak
cowok yang suka nyengir waktu lewat tangga depan?”
“Yang mana Si, kan yang
lewat tangga depan tuh satu sekolahan. Loe pikir gue satpam apa!”
“Noh cowok pirang yang
dari negeri laskar pelangi, cowok seksi tu loo Pah! Yang bagian kerohanian Pah”
“Maksud loe itu Bang
Anggit??”
“Siapa?? Anggit? Yakin
loe Pah namanya Anggit, gue si nggak tau, yang gue tau dia anak XII IPA sama anak
Rohis... Hehehehe” Sisi nyengir untuk menutupi keriangannya mengetahui nama
pujaan hatinya.
“Kalo dari Sumatera ya
Bang Anggit. Ni catet ye... Namanya tuh Anggita Rizki Setiawan Anak XII IPA-3,
mw tau nomor handphonenya juga nggak??? Apa mau pin Bbnya???”
“Ia Ipah sayang mau,
gue mau... cepetan nomornya berapa Ipah sayang???”
“Loe pikir gue apaan
sampai tau segitunya... hahahaha Loe jatuh cinta ye Si?”
Muka
Sisi sudah jadi kepiting rebus, yang dia lakukan hanya menggelengkan kepala
saja. Sisi bahagia mendengar nama pujaannya. Sisi tak peduli dengan candaan
Ipah terhadapnya karena yang ia inginkan saat ini adalah Sisi berkhayal bisa
bersama Bang Anggit pulang pergi sekolah naik motor tuanya.
***
Di
rumah Sisi terus tersenyum, suatu kejanggalan mengingat pagi hari dia tampak
mendung tak bergairah. Sisi tak sabar menunggu untuk MABIT besok malam. Sisi
terus berkhayal bisa membagun rumah tangga bersama Bang Anggit yang anak Rohis.
Pasti bahagia dan nyamannya rumah dengan alunan suara qiroatilnya Bang Anggit.
Sisi pun berkhayal akan memiliki anak-anak pirang yang lucunya bukan main. Mata
genitnya Bang Anggit akan menurun ke anak-anaknya, Sisi juga menginginkan
anak-anaknya akan berpipi cabby seperti dia. Mama dan kakaknya yang melihat
kejanggalan pada diri Sisi pun sepakat untuk menginterogasi Sisi sampai dapat.
“Si
anak mana yang nyantol di otak loe!” tampang garang Kak Lian dan mama membuat
Sisi mengkerut diam tak banyak bicara. Lalu Sisi tersenyum dan berlalu dari
keduanya.
Sisi
tak mau ada yang membuyarkan lamunannya. Sisi tak mau ada yang menghancurkan
mimpinya. Sisi hanya ingin bahagia menikmati masa remajanya ini dengan cinta
monyet meskipun itu tak mungkin bagi Sisi. Sisi ingin sekali meskipun kata
ingin akan berubah menjadi larangan dari kedua orang tuanya. Sisi pun menyadari
keadaannya hingga ia rela cinta dengan caranya, memasuki dunia imajinasinya dan
bercinta monyet dengan Bang Anggit laki-laki pujaannya.
***
Di
acara MABIT, Sisi tak bisa diam, kedua bola matanya memutar terus mencari Bang
Anggit. Hatinya kecewa, Sisi diam tak secerah kemarin siang. Sisi berusaha
fokus mengikuti kegiatan, tapi apalah daya, hatinya terus memaksa Sisi untuk
mencari sosok Anggit.
Sisi
memutuskan menyerah, dia lelah mengikuti perasaannya. Dia mengakui logikanya
yang lebih kuat tapi Sisi tetaplah remaja yang ingin merasakan madu dan
racunnya cinta monyet. Di tengah lapangan basket, acara terakhir MABIT pada
malam ini, dia terus berusaha mencari Anggit. Diputarinya lapangan basket yang
konon katanya angker, dua bolamatanya tak berhenti hingga menemukan bayangan
hitam di gazebo lantai 2. Sisi mengamati banyangan itu, dipastikannya bahwa ia
adalah Anggit.
Tak
sengaja mata Sisi beradu mata dengan mata Anggit, dalam hatinya berkata bahwa
ini terakhir kalinya ia dipermainkan sebuah gejolak remaja. Ini terakhir
kalinya dia memuaskan diri memandang pujannya hingga terbentuk sebuah puisi dan
hanya hati Sisi yang tau.
Kala mentari datang menyapa
Kau hangatkan duniaku dengan senyum
merekahmu
Kala mentari kembali ke peraduannya
Kau terangi malamku dengan khayalmu
Pangeran tampanku
Pesonamu meluluhkan duniaku
Tatapanmu seakan merengkuhku
Mendekapku dengan lembut
Semilir angin yang membawa getar cintaku
Ku tau diriku hanya sebuah bayangan
Bayang-bayang yang sampai esok pun
takkan terlihat...